Kenapa Aku Pilih Obsidian (Dan Nggak Balik Lagi)

Aku beli Mac second beberapa waktu lalu. Kebetulan karena butuh banget, lebih ke…ya udah lah, kesempatan. Sekalian juga pakai HP bekas istri yang iOS — jadi tiba-tiba aku masuk ke Apple ecosystem, sesuatu yang sebelumnya nggak pernah aku rencanain.

Masalahnya, sistem catatan aku waktu itu masih kacau.

Aku udah pernah nyobain hampir semua app yang mungkin pernah anda dengar — Notion, Twos,Logseq, Craft, Capacities, sampai yang lain-lainnya. Semua dicoba dengan penuh semangat, semua akhirnya ditinggalin. Polanya selalu sama: semangat di awal, berantakan di tengah, kabur di akhir.

Aku pikir masalahnya ada di app-nya. Jadi tiap ada yang baru dan viral, aku migrasi.

Ternyata bukan itu masalahnya.


Titik Balik: File Over App

Di tengah-tengah hoppping app itu, aku baca tulisan Kepano — CEO Obsidian — soal filosofi yang dia sebut file over app.

Intinya sederhana tapi langsung nyentil: data kita harus bisa bertahan lebih lama dari app yang kita pakai.

Selama ini aku nyimpen catatan di dalam ekosistem app tertentu. Kalau app-nya tutup, pivot, atau tiba-tiba ganti pricing — data aku ikut tersandera. Dan itu sudah terjadi lebih dari sekali.

File over app ngajarin aku bahwa format itu penting. Catatan dalam bentuk markdown — plain text sederhana — akan tetap bisa dibaca 10, 20 tahun lagi, meski app-nya sudah lama nggak ada. Catatan kita jadi everlast, apapun tools-nya.

Dari situ aku berhenti cari app terbaik. Aku mulai cari app yang menghargai data aku sendiri.

Dan jawabannya Obsidian.


Momen yang Bikin Kepincut

Obsidian reputasinya lokal, offline, dan agak ribet buat yang baru mulai. Aku tau itu sebelum nyoba, dan sempat males duluan.

Tapi waktu iseng setup dan nemu bahwa vault-nya bisa disimpen langsung di iCloud — sesuatu langsung klik. Data-nya tetap milik aku, format markdown, tapi bisa diakses dari Mac dan iPhone tanpa setup yang aneh-aneh.

Itu yang bikin aku lanjut explore lebih dalam.


Rabbit Hole Bernama Nick Milo

Dari situ aku mulai cari-cari sistem apa yang cocok dipakai di Obsidian. Nonton YouTube, ketemu Nick Milo yang bahas framework bernama Ideaverse.

Ideaverse punya tiga pilar utama:

  • Atlas — knowledge-based notes, hal-hal yang aku pelajari dan ingin pahami lebih dalam
  • Chronicle — time-based notes, daily notes, jurnal, hal yang terikat waktu
  • Efforts — action-based notes, project dan hal yang sedang dikerjakan

Framework ini pakai modified Zettelkasten yang jalan dua arah — top down kalau mau organize dari kategori besar, bottom up kalau mulai dari satu catatan kecil dan koneksinya berkembang sendiri.

Obsidian-ku sekarang basenya dari template gratis Ideaverse Nick Milo — tapi sudah aku modifikasi sampai rasanya jadi sistem aku sendiri.


Graph View Yang Bikin Nagih

Kalau ada satu fitur Obsidian yang paling susah dijelasin tapi paling gampang dirasain — itu graph view lokal.

Setiap kali klik satu catatan, langsung muncul visualisasi — notes ini nyambung ke mana aja, dan apa yang nyambung ke dia. Ide yang aku tulis bulan lalu tiba-tiba keliatan nyambung sama sesuatu yang aku tulis minggu ini. Koneksi yang nggak akan pernah aku sadarin kalau catatannya cuma duduk diam di folder.


Dari Vault Jadi Website

Satu hal lagi yang bikin makin betah — vault-nya bisa dipublish jadi website.

Obsidian punya fitur publish resmi tapi berbayar. Aku cari alternatif, nyoba kiri kanan, dan cocoknya pakai Quartz — tool open source yang mengubah vault Obsidian jadi digital garden yang bisa diakses siapa aja.

Instalasinya pakai terminal, ada sedikit coding. Aku dibantu Claude buat setup-nya — dan waktu pertama kali buka anggapracoy.xyz dan liat catatan-catatan aku jadi website beneran, rasanya campur aduk antara “eh kok bisa ya” dan “balee keren eh” dengan logat Pontianak

Sekarang blog ini jalan di atas sistem yang sama dengan tempat aku nulis catatan sehari-hari.


Soal Sync Antar Device

Daily driver aku Android. Mac dan iPhone aku pakai, tapi HP utama tetap Android — jadi iCloud sync aja nggak cukup.

Obsidian Sync jawabannya. Berbayar, tapi speednya cepat dan seamless antar device beda ekosistem sekalipun. Buat aku yang gampang distraksi kalau sistem-nya ribet, ini krusial. Kalau sync-nya lambat atau sering error, aku pasti udah kabur ke app lain.


Kenapa Nggak Balik Lagi

Customization-nya hampir nggak ada batasnya. Plugin komunitas ribuan, tampilan bisa diutak-atik sampai detail terkecil.

Tapi yang paling utama — data-nya lokal, format markdown, milik aku sepenuhnya. Mau Obsidian besok tutup sekalipun, catatan aku tetap ada dan tetap bisa dibaca.

Itulah yang file over app ajarkan. Dan itulah kenapa aku nggak kemana-mana lagi.

Tags : pkm