
“You will suffer for this.” — Kratos
Kratos = God of War
Sudut Pandang: Bukan Tentang Dewa, Tapi Tentang Seorang Bapak
Kalau orang menyebut Kratos, hampir pasti yang muncul pertama adalah satu hal.
Amarah.
Dewa yang membunuh dewa. Sosok yang berjalan sambil membawa kematian. Dunia mengenalnya sebagai simbol kekuatan brutal tanpa kompromi.
Dan memang, itu tidak salah.
Tapi ada satu fase dalam hidup Kratos yang diam diam mengubah segalanya. Bukan karena dia jadi lebih lemah. Justru karena dia mulai belajar menahan kekuatannya.
Di titik itu, ceritanya berubah.
Ini bukan lagi soal balas dendam. Ini soal menjadi seorang bapak.
Dari Rage ke Responsibility
Kalau kamu melihat perjalanan Kratos dari awal, hidupnya didorong oleh satu hal: rage.
Semua keputusan datang dari emosi. Semua aksi punya arah yang sama, menghancurkan apa yang ada di depannya.
Tapi ketika Atreus hadir, ritmenya berubah.
Tiba tiba, setiap keputusan tidak lagi hanya berdampak ke dirinya sendiri.
Ada seseorang yang melihat. Ada seseorang yang belajar.
Dan ini menarik.
Karena Kratos bukan tipe bapak yang langsung tahu cara mendidik. Dia tidak hangat. Tidak banyak bicara. Bahkan sering terasa jauh.
Tapi justru di situ terasa jujur.
Because i feel the same
Menjadi Ayah atau Dewa Perang ?
Kalau dulu perang Kratos jelas, melawan dewa, monster, dan takdirnya sendiri.
Sekarang, perangnya lebih sunyi.
Didepan Atreus..
Menahan diri saat marah. Memilih kata saat ingin diam. Mengajarkan tanpa menghancurkan.
Dan kalau dipikir, ini jauh lebih sulit.
Karena melawan orang lain itu jelas. Tapi melawan diri sendiri, tidak ada jedanya.
Kratos tahu dia punya masa lalu yang buruk. Dan ketakutannya sederhana.
Jangan sampai Atreus menjadi versi dirinya yang lama.
Merasakan Kratos
Kalau dilihat sekilas, dunia Kratos jauh dari realita kita.
Dewa. Monster. Naga.
Tapi kalau ditarik ke dalam, ceritanya sangat sederhana.
Tentang laki laki yang ingin menjaga keluarganya. Tentang usaha untuk jadi lebih baik dari masa lalu. Tentang tanggung jawab yang tidak bisa ditawar.
Dan mungkin itu kenapa banyak orang bisa merasa dekat, walaupun settingnya tidak masuk akal.
Karena dalam versi masing masing, banyak dari kita juga sedang berusaha.
Tidak harus sempurna. Cukup tidak mengulang kesalahan yang sama.
Catatan Pribadi (Sedikit Tidak Bijak) 😅
Ngomongin Kratos, saya juga tidak bisa terlalu objektif.
Pernah satu waktu, saking ngefansnya, saya beli poster Kratos pakai uang makan di akhir bulan.
Waktu itu rasanya masuk akal.
Baru beberapa hari kemudian terasa… ya, konsekuensinya ada.
Akhirnya makan pinjam ke teman.
Kalau ditanya nyesel atau tidak?
Enggak juga.
Bukan karena posternya, tapi karena ada sesuatu dari karakter ini yang nempel.
Bukan soal seberapa kuat dia.
Tapi soal bagaimana dia tetap jalan, walaupun bawa banyak hal di belakangnya.
Dan mungkin, itu yang bikin dia terasa dekat.
Tags : things