
One Piece dan bocil sekolahan
Cerita tentang kru bajak laut, uang les yang nggak pernah nyampe, dan manga yang udah dua dekade belum bisa aku tinggalin.
Arc Ennies Lobby adalah arc yang menurutku sampe saat ini masih arc favorit, karena disitu berasa sekali betapa setia kawan nya Straw Hat Crew,bagaimana putus asanya Robin agar temannya hidup ia rela mengorbankan diri,keceriaan,keluarga yang baru ia dapat
Dan di arc ini pertama kalinya terharu sampe menitikan air mat, kok bisa ya padahal cuma baca doang 🤣, emang se jago itu oda bercerita lewat gambar
Ketularan sifat Usopp
Aku kenal One Piece waktu SD. Entah dari mana persisnya — mungkin dari teman, mungkin dari nonton sekilas di TV. Waktu itu aku belum sepenuhnya ngerti ini manga apa, tokohnya siapa, atau kenapa ada orang makan buah terus bisa mulur kayak karet. Yang aku tahu: ini seru, dan teman-teman pada suka.
Tapi barulah waktu SMP ceritanya berubah. Dari sekadar “iya aku tau One Piece” jadi obsesi dengan karakter dan ceritanya karena kejeniusan Oda sensei,sampai ditahap obsesi yang agak tidak sehat secara finansial.
Ada periode di mana aku rajin beli komiknya. Rajin banget. Serajin-rajinnya. Sampai uang yang harusnya buat bayar les — dengan enteng dan penuh keyakinan — aku alihkan ke toko buku buat beli volume One Piece terbaru. Uang itu nggak pernah nyampe ke tempat lesnya. Tapi nyampe ke toko buku dengan selamat, dan akhirnya jadi koleksi rapi di rak kamar. Prioritas, namanya🫢
Saking banyaknya baca One Piece, pelan pelan sifat usopp yang pembohong itu mulai ak tiru 🤣
Sampai pada akhirnya ketika masa kelulusan SMP. Bapak bilang mau beliin gitar sebagai hadiah kelulusan. Kedengarannya manis banget, kan? Sayangnya, di titik itu juga ketahuan soal uang les yang selama ini nggak pernah kesetor. Uang gitar pun akhirnya dipakai untuk melunasi “hutang” itu.
Gitar yang aku harapkan nggak pernah ada. One Piece yang aku beli sudah keburu habis dibaca. Dan bapakku cuma diam. Ekspresi kecewanya lebih berat dari kalau dia marah sekalian.
Jadi kalau ada yang tanya apa pelajaran terbesar yang pernah aku dapat dari membaca manga — ini dia. Harganya satu gitar.
Farewell Going Merry
Kalau anda pernah baca atau nonton One Piece, anda tahu ini bukan kematian karakter. Ini kematian sebuah kapal. Kapal kayu. Yang harusnya nggak bisa ngomong, nggak bisa ngerasain apa-apa, dan nggak punya nyawa.
Tapi Oda nulis adegan itu dengan cara yang berhasil bikin pembaca merasa kehilangan beneran. Going Merry bukan sekadar kendaraan. Dia adalah rumah pertama Mugiwara Crew — tempat mereka makan, tidur, ribut, ketawa bareng. Dan waktu Merry akhirnya hancur dan dibakar sebagai penghormatan terakhir, itu terasa bukan seperti kehilangan benda. Lebih dekat ke kehilangan bagian dari perjalanan.
Aku terharu karena paham semua itu secara sadar waktu itu. Sehari hari habiskan dengan membaca komik,dan pada saat baca one piece di kamar, nggak terlalu mikir soal simbolisme atau narrative craft. Tubuhku yang merespons duluan. Dan itu yang sampai sekarang bikin aku susah jelasin ke orang kenapa One Piece itu beda — karena penjelasannya selalu terdengar lebay, padahal yang ngerasain pasti ngerti.
Dua Dekade, Masih Belum Selesai
Sekarang aku udah jauh lebih tua dari anak yang dulu korupsi uang les itu.
Dan One Piece masih ongoing.
Strategiku sekarang beda: aku baca manganya tapi dicicil. Sengaja. Biar nggak cepat habis. Kalau chapter baru keluar dan aku belum baca yang lama, itu malah jadi stok kesenangan yang bisa dinikmati pelan-pelan. Di sisi lain, aku juga rewatch anime-nya di Netflix — ngulang dari awal, menikmati arc-arc yang dulu aku skip atau lupa.
Lucu juga sebenernya. Dulu belinya buru-buru karena takut kehabisan cerita. Sekarang justru sengaja diperlambat karena takut ceritanya habis duluan. Pertumbuhan, katanya.
One Piece bertahan selama ini karena Oda nulis karakter yang terasa nyata — mimpi yang konyol, persahabatan yang ribet, dan momen kehilangan yang bikin pembaca melamun “kok bisa kejadian ya”. Ada arc yang bikin frustrasi, ada pacing yang melelahkan.
Di suatu titik, anda nggak cuma baca tentang Luffy yang mengejar One Piece. Anda juga sedang mengejar sesuatu. Dan entah kenapa, rasanya lebih mudah kalau ada nakama yang ikut berlayar bersama