Tana: App yang Confusing Sebelum Akhirnya Nggak Bisa Lepas
Jujuuuuur,waktu lagi hop hop nya, pertama kali aku coba Tana — aku nyerah dalam beberapa hari.
Waktu itu aku masih hidup dengan logika folder. PARA method, semuanya harus punya tempat yang jelas: Projects, Areas, Resources, Archives. Rapi, terstruktur, hierarkis. Aku nyaman di sana, dan aku pikir semua app yang bagus ya harusnya kerja dengan cara yang sama.
Tana? Nggak ada folder-nya sama sekali.
Semuanya node, semuanya bisa saling nyambung, strukturnya kamu yang bikin sendiri lewat supertag. Aku buka app-nya, bengong beberapa menit, nggak ngerti mau naruh apa di mana — dan akhirnya nutup lagi. Tana masuk daftar panjang “app yang pernah dicoba tapi nggak jodoh.”
Daaan Obsidian Mengubah Cara Aku Pake Ini Otak
Beberapa bulan pakai Obsidian, perlahan aku mulai ngerti cara kerja linking my thinking. Ide itu nggak harus disimpen di folder tertentu — yang penting dia terhubung sama ide lain yang relevan. Nggak ada hierarki kaku, yang ada koneksi.
Suatu hari, iseng buka Tana lagi.
Dan kali ini… langsung klik, coy.
Ternyata Tana bukan app yang susah. Aku aja yang dulu belum punya mental model yang tepat buat memahaminya. Setelah terbiasa dengan Zettelkasten di Obsidian, cara kerja Tana tiba-tiba masuk akal banget. Supertag itu essentially seperti bidirectional link tapi lebih kaya — setiap node bisa punya properti, bisa difilter, bisa diorganisir tanpa harus dipindah-pindah ke mana-mana.
Oh. Jadi gini maksudnya.
Voice Capture yang Bikin Aku Males Ngetik
Oke, ini fitur yang kalau aku ceritain ke orang, reaksinya selalu “ah masa sih segitunya.”
Segitunya.
Voice capture di Tana mobile itu simpel banget: buka app, klik tombol suara, ngomong. Selesai. Tapi yang bikin beda — Tana nggak cuma transkripsi mentah. Kalau aku ngomong terbata-bata, muter-muter, atau kalimatnya berantakan, Tana bisa merapikan dan kasih konteks maksudnya apa.
Jadi hasilnya bukan rekaman acak yang harus diedit lagi. Langsung catatan yang bisa dipakai.
Setelah itu tinggal kasih supertag, dan catatan itu langsung terorganisir sendiri ke tempatnya. Nggak perlu mikir mau ditaruh di mana, nggak perlu setup manual apapun. Buat aku yang sering dapet ide random waktu lagi nyetir atau males ngetik panjang, ini game changer banget.
Di Obsidian sebenernya aku juga bisa capture cepat — klik magnifier glass, tulis, beres. Tapi untuk on the go, Tana menang telak.
Outline Method dan Kebiasaan Lama yang Nyambung
Aku udah lama suka nulis di notebook fisik pakai Bullet Journal method. Salah satu teknik favoritnya adalah rapid logging — mencatat cepat dalam format pendek, pakai simbol, terstruktur tapi nggak kaku.
Kalau dipikir-pikir, rapid logging itu pada dasarnya outlining.
Dan Tana by nature adalah outlining tool.
Jadi waktu mulai rutin pakai Tana, rasanya familiar banget — kayak kebiasaan analog aku selama ini cuma pindah ke digital. Sekarang daily notes aku lebih sering di Tana. Nulis outline harian, capture ide yang lewat, log hal-hal kecil yang perlu diingat. Obsidian tetap aku pakai untuk catatan yang lebih panjang dan dalam, tapi untuk hari-hari biasa, Tana yang lebih sering kebuka.
Oh Iya, Tana Juga Jadi Task Manager Aku
Ini yang mungkin nggak banyak orang kepikiran — aku pakai Tana bukan cuma untuk catatan, tapi juga untuk project dan task management sehari-hari.
Caranya nggak ribet: tulis sesuatu, kasih supertag task, langsung masuk sendiri ke halaman tasks tanpa perlu dipindah manual. Mau lihat semua yang pending, tinggal buka supertag-nya — udah ada semua di sana, rapi, tanpa effort ekstra.
Nggak perlu app todo list terpisah. Nggak perlu database Notion yang makan waktu buat di-setup dari nol.
Cons yang Ternyata Nggak Jadi Masalah
Satu hal yang Tana dan Obsidian sama-sama nggak punya adalah notifikasi native.
Awalnya aku kira ini bakal jadi masalah besar. Ternyata nggak sama sekali.
Justru karena nggak ada yang nge-ping, aku jadi buka kedua app ini dengan sengaja — kalau buka ya emang mau nulis atau mau cek sesuatu. Dan efek sampingnya, waktu aku scrolling Instagram atau TikTok berkurang lumayan drastis.
Tanpa sadar, waktunya kepake buat hal yang lebih worth it. Nggak ada resolusi apapun, nggak ada niat digital detox — kejadiannya ya gitu aja xixixixi
Sistem yang baik ternyata nggak selalu yang paling berisik. 🍋
Tags : pkm
Tekan Anggapracoy untuk kembali ke Command Center